Kedua gambar di atas memiliki satu kesamaan, yaitu sungai di depan tempat kos. Tetapi perbedaannya banyak sekali.
Gambar pertama adalah foto kanal yang dibidik teman saya dari jendela kamarnya di sebuah student huis di kawasan Nieuwe Rijn, Leiden. Saat musim winter tiba, teman saya bercerita bahwa kanal tersebut akan membeku dan menjadi tempat yang seru untuk bermain-main bola salju. Sedangkan saat musim hangat, teman saya bisa berperahu di kanal yang indah itu atau berjalan-jalan di tepi kanal sambil menikmati hangat sinar matahari ditemani secangkir koffie verkeerd dan pistolet. Jika mau, taman-taman berumput di tepi kanal juga bisa menjadi tempat yang nyaman untuk belajar.
Gambar kedua adalah foto sungai Cikapundung yang saya jepret dari teras kamar kos saya saat kuliah di daerah selatan Bandung. Pada musim hujan, air sungai akan menghitam dan volumenya meninggi bahkan sering meluap. Sedangkan saat musim kemarau, debit airnya berkurang dan mengakibatkan sampah-sampah tersangkut di beberapa bagian sungai. Jika di kanal Belanda bisa dilalui perahu untuk berwisata, sedangkan sungai Cikapundung dilalui sampan-sampan para pemulung yang mengais sampah. Maka jangan berharap untuk bisa menikmati keindahan Cikapundung sembari membaca buku di pinggirnya. Baunya yang menusuk hidung dan tidak adanya fasilitas bersantai, akan membuat kita enggan mendekat pada Cikapundung.
Kontras sekali bukan? Ternyata tidak hanya kualitas institusi pendidikannya yang berbeda, tetapi perbedaan mencolok tersebut secara kasat mata juga tampak dari lingkungan pendukung tempat pendidikan! Tapi sudahlah. Jika kita bahas perbedaan ini lebih rinci, maka akan semakin terasa getir dan miris sekali.
Tentu tidak keliru jika Belanda dikatakan sebagai negara yang paling menyenangkan untuk tinggal. Belanda adalah planner mumpuni dan eksekutor handal. Pemerintah Belanda sangat memperhatikan segala sesuatu untuk kesejahteraan penduduknya. Mereka sadar sepenuhnya bahwa negerinya terletak di bawah permukaan laut yang rawan banjir, sehingga mereka membuat tanggul kokoh yang mampu membendung air laut bahkan mampu ‘menyulapnya’ menjadi daratan. Mereka tahu bahwa wilayahnya sempit dan tidak memiliki banyak ruang untuk membuang sampah, sehingga mereka membuat sistem pengolahan sampah yang terpadu. Mereka juga memahami bahwa negaranya tidak memiliki cadangan energi yang memadai, sehingga mereka mengusahakan sumber energi listrik terbarukan yang bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Berawal dari kepedulian dan penghargaan hak asasi yang tinggi pada rakyatnya itulah, maka Belanda layak ‘diganjar’ seabrek predikat yang membanggakan.
Menurut Dutch Daily News, hasil penelitian kondisi taraf hidup 194 negara yang dilakukan oleh majalah International Living, Belanda menduduki posisi ke-11 dari tempat tinggal terbaik di dunia. Sedangkan United Nations Development Programme (UNDP) menyatakan bahwa Belanda berada di urutan ke-7 untuk Human Development Index (HDI) pada tahun 2010 dengan predikat Very High Human Development. Adapun majalah Newsweek melansir bahwa Belanda pada tahun 2010 menduduki urutan ke-8 The World’s Best Countries yang penilaiannya meliputi kategori pendidikan, kesehatan, kualitas hidup, dinamika ekonomi, dan lingkungan politik. Diantara negara ‘Eropa Daratan’, posisi Belanda tersebut berada di urutan 3 dan ‘hanya’ di bawah Switzerland dan Luxembourg. WOW!!
Jika Belanda bisa, mengapa kita –negeri gemah ripah loh jinawi– yang pernah ‘diasuhnya’ selama 350 tahun tidak bisa?
Jadi tunggu apa lagi? saatnya, kejar Belanda!
Sepak bola dunia tak bisa dipisahkan dari ‘nama besar’ Belanda. Kita sering mendengar kedigdayaan total football, sebuah taktik permainan yang diperkenalkan oleh Rinus Michels dan dipopulerkan oleh klub Ajax Amsterdam sejak tahun 1969. Kita juga telah mengetahui bahwa tim nasional Belanda pernah menduduki peringkat ketiga dunia, menjuarai Piala Eropa Tahun 1988, serta muncul di tiga final Piala Dunia FIFA tahun 1974, 1978 dan 2010. Belum lagi para pesepak bola belanda yang melegenda, misalnya Marco van Basten, Guus Hiddink, Johan Cruijff, Ruud Gullit, Dennis Bergkamp, serta Edwin van der Sar.
Tapi, Belanda tak hanya ‘besar’ karena Sepak Bola!
Belanda juga sering ‘berbicara’ di panggung olahraga dunia melalui olahraga lainnya. Sebut saja Pieter van den Hoogenband, perenang dengan prestasi fantastis yang pernah memegang rekor dunia nomor 100 m gaya bebas dan menyabet 3 medali emas olimpiade, 1 medali emas kejuaraan dunia, serta 15 medali emas kejuaraan eropa. Di sektor renang putri, prestasi yang luar biasa ditorehkan Inge de Bruijn yang telah meraih 4 medali emas olimpiade, 6 medali emas kejuaraan dunia, dan 4 medali emas kejuaraan eropa. Adapula Anky van Grunsven, penunggang kuda spesialis nomor individual dressage yang menggondol 3 medali emas olimpiade, 2 medali emas kejuaraan dunia, serta 4 medali emas kejuaraan eropa. Selain itu juga ada Leontine van Moorsel, pebalap sepeda wanita yang merengkuh 4 medali emas olimpiade dan 8 medali emas kejuaraan dunia dari nomor road race, time trial, serta individual pursuit. Serta masih banyak bintang Belanda yang meraup emas di gelaran olimpiade seperti Mariane Vos, Marie Brentjens, Ellen van Langen, dan Maarten van der Weijden.
Prestasi Belanda di ajang olimpiade memang belum semegah Amerika Serikat, China, atau Rusia yang merupakan raksasa-raksana dunia. Salah satu capaian terbaik Belanda di olimpiade ‘hanya’ menduduki peringkat kedelapan di Olimpiade Sydney Tahun 2000. Tetapi, mengingat negara yang hanya berpenduduk sekitar 17 juta jiwa dengan luas wilayah tak lebih dari 42000 km2, tentu capaian tersebut sangat gemilang.
Warga belanda memang keranjingan olahraga. Sekitar 4,5 juta orang terdaftar ke salah satu dari 35.000 klub olahraga di negara ini. Olahraga tim paling populer yaitu sepak bola, diikuti hoki lapangan dan voli. Sedangkan tenis, senam, dan golf adalah tiga olahraga individu yang paling digemari. Selain itu, sejumlah olahraga Belanda asli juga dimainkan, seperti fierljeppen, beugelen, kaatsen, klootschieten, kolven, dan korfball.
Hal ini tentu juga karena dukungan Pemerintah yang telah menyediakan sarana olahraga yang memadai, baik yang sederhana maupun sarana olahraga modern yang digunakan untuk ajang dunia. Misalnya Ahoy Rotterdam, arena olahraga indoor berkapasitas 10.000 orang yang terletak di kota Rotterdam. Adapula sirkuit Assen dengan lintasannya sepanjang 4.525 m dengan trek sempit dan menantang yang memberikan pemandangan menakjubkan bagi ratusan ribu penonton fanatik di ajang bergengsi motorsport setiap tahunnya.
Belanda memang telah membuktikan menjadi salah satu yang terdepan dalam pencapaian di berbagai hal. Konsistensi Belanda dalam menjaga kualitasnya, telah menjadikannya sebagai tempat tinggal yang menyenangkan bagi warganya untuk melakukan beragam aktivitas termasuk olahraga, yang juga berimbas pada capaian-capaiannya hingga level dunia.